-->

Notification

×

Iklan

DONASI

DONASI

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kado Indah Akhir Tahun

Monday, May 30, 2011 | 11:28 PM WIB Last Updated 2011-11-05T06:12:15Z
(::Kalyca Darellia Qanita Fikri)
oleh Ruslan Fikri pada 12 Februari 2010 jam 22:32
”MESKI dibawa kemanapun, tetap harus di-caesar,” suara dokter ahli kandungan itu, laksana gelegar petir di siang hari. Begitu menghentak!! Seperti vonis hakim dalam sidang putusan. ”Itu karena posisi bayi anda sungsang,” imbuh dokter spesialis itu. ”Berapa biayanya dok?”. Kendati dia bisa menebak kisaran angka-angka yang bernada jutaan, namun pertanyaan itu tetap meluncur. Berharap bisa dijangkau. Ada nada cemas dalam tanya. Khawatir akan nasib istri, terutama anak pertama sang calon ayah..

Dan benar saja. Angka itu tak mampu dipenuhinya. Dalam posisi pekerja pers yang tak memiliki gaji pokok, karena perusahaan penerbitan media cetak tempatnya bernaung hanya memberikan uang makan dan transport, kendati telah setahun bekerja, ia merasa tak memiliki uang sebanyak itu. Memang, ia telah meminjam uang dari kantornya. Namun itu hanya cukup untuk membeli perlengkapan pakaian bayi, jika kelak ia dipercaya Sang Pencipta menitipkan malaikat kecil-Nya.

Terbersit dalam fikirannya untuk menggunakan program pemerintah bagi keluarga miskin seperti dirinya. Apalagi ia memiliki sepupu yang bekerja sebagai staf di kelurahan tempat tinggalnya. Tentu akan lebih mudah mengurus keperluan administrasinya. Ada sedikit pijar matahari di wajahnya. Jujur saja. Sebelumnya lelaki itu memang berniat, jika tiba waktunya sang istri melahirkan, ia akan membawanya ke rumah sakit umum daerah. Alasannya, fasilitas peralatan untuk melahirkan di rumah sakit milik pemerintah itu lebih lengkap. Kendati dalam hal pelayanan kurang memuaskan. Namun, saat itu, sang istri menginginkan bersalin di rumah bersalin dekat rumah orangtuanya. Selain dekat, rumah bersalin tersebut sudah berpengalaman dan menurutnya, terbukti baik.

Usai menemui dokter yag memimpin salah satu rumah sakit swasta terkenal di kotanya, calon ayah tersebut mengajak istrinya pulang. Langkahnya agak ringan. Ia yakin, ia akan segera melihat fisik anaknya. Yakin sekali. Walaupun sang istri telah diyakinkannya, namun kodratnya sebagai wanita tetap timbul. Sesampainya di kediaman mertuanya, sang istri menangis. Calon ayah tersebut berusaha menenangkan dan meyakinkannya kembali.

”Bawa saja dahulu ke rumah sakit umum. Surat menyuratnya nanti bisa menyusul,” terang pria adik sepupunya melalui telepon seluler. Segera ia berkemas, mempersiapkan segala keperluan melahirkan. Sebelum berangkat dengan menyewa angkutan kota, ia sempat mengambil gambar istrinya menggunakan kamera digital yang dicicil dengan uang makan dan transport-nya. Foto itu merupakan salah satu syarat untuk mengurus keperluan administrasi keluarga miskin. Terlihat raut sedih istrinya di dalam gambar. ”Ah, maafkan aku istriku sayang. Aku tak bisa membiayai operasi caesar yang jumlah uangnya tak pernah tergenggam apalagi memiliki, selama hidupku. Maafkan ayah nak,” gumamnya dalam hati.

Setibanya di rumah sakit milik pemerintah, ia lalu membawa istrinya ke ruang bersalin, usai mendaftar dengan persyaratan seadanya. Setelah sang mertua menemani istrinya di dalam ruangan bersama beberapa wanita yang juga akan melahirkan, ia lalu beristirahat sejenak di luar. Sambil menghisap sebatang rokok, ia duduk di sisi seorag pria yang sebaya dengan dirinya. ”Siapa yang melahirkan?” tanyanya, berusaha mengajak lelaki itu berbincang, sekaligus menenangkan hati dan fikirannya. ”Saudara saya,” jawab pria itu. Yang membuat ia terkejut, lelaki itu menjelaskan, jika posisi bayi saudara perempuannya itu sungsang. Sama seperti bayinya, yang kini berada dalam kandungan istrinya. 

”Tapi melahirkannya bisa secara normal,” imbuh lelaki itu, yang kian membuatnya ‘tertarik’. Bagaimana bisa? Masih terngiang kata-kata dokter ahli kandungan, yang membuka praktek di dekat kediaman mertuanya, tempat ia biasa memeriksakan kondisi bayi dalam kandungan istrinya mengatakan Walau pun dibawa ke mana saja, istrinya harus melalui operasi caesar? Masih terngiang kata-ata dokter yang bagaikan guntur dan vonis hakim itu. Menurut dokter yang bertugas di rumah sakit umum ini, seperti dikutip pria itu, bila umur kandungan sudah cukup bulannya serta kondisi kesehatan sang ibu baik, maka bisa melahirkan secara normal, walaupun posisi bayi tak umum.

Benar saja! Setelah satu hari satu malam istrinya terbaring di bangsal menahan rasa sakit, menurut dokter menunggu posisi bayinya ’turun’, keesokan harinya bayinya pun hadir ke bumi, pukul 16.00, Jumat 28 Desember 2007, dengan kondisi fisik dan melahirkan normal. Alhamdulillahirobbil’alamiiin. Sebelumnya, dokter maupun juru rawat, tak memberitahukan jika istrinya akan melahirkan. Hanya menduga saja, ketika perawat menanyakan keluarga istrinya, untuk meminta popok bayi. Karena di dalam ruang bersalin itu hanya boleh ada dokter, beberapa perawat serta para pasien yang akan melahirkan. Bila ada pasien yang akan melahirkan, seluruh keluarga pasien dilarang berada di dalam ruangan bersalin.

Ketika pintu terbuka, dan seorang perawat membawa bayi ke ruang sterilisasi bayi, yang berada di ruang sebelah kiri kamar bersalin, calon ayah yang duduk di atas bagsal dorong pasien yang belum digunakan, firasatnya mengatakan jika itu adalah bayinya, darah dagingnya. Ada haru bercampur bahagia yang belum pernah dirasakan selama hidupnya, menyeruak dari lubuk hatinya. Ketika ia dipanggil untuk mengpazankan sekaligus meng-iqomahkan anaknya, perasaan haru dan bahagia itu kembali hadir, ketika melihat wajah dan fisik anaknya yang sempurna. ”Subhanallah walhamdulillah wa laailaahaillallahu wallahu akbar… Inilah kado terindah di akhir tahun yang kuterima dari-Mu Ya Allah. Segala puji bagi-Mu duhai Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna,” ucap syukur sang ayah.

Kini, bayi yang diberi nama Kalyca Darellia Qanita Fikri yang berarti ’sekuntum mawar tercinta yang taat dan berbakti itu adalah putrinya Fikri’, telah berusia dua tahun. Secara fisik, anak perempuan ini sangat cantik dan lucu. Dengan tubuh yang gemuk sehat menggemaskan, Darell – sapaan sayangnya – juga cukup pintar dan cerdas untuk anak seusianya. Bukannya air laut asin sendiri. Tapi inilah kenyataannya. Darell sangat menggemaskan setiap orang yang melihatnya. Malaikat kecil itu sangat disukai dan disayangi semua orang. Terlebih ayah, ibu, serta keluarga dekatnya. 

Terimakasih Ya Allah atas karunia yang sangat besar, yang Engkau berikan kepada hambamu yang berlumur dosa ini. Ampuni dosaku, yang lalai menjalankan kewajiban terhadap-Mu. Terangkan hati dan imanku, agar aku dapat beribadah kepada-Mu. Bimbing aku, agar dapat terus menafkahi lahir dan batin anak istriku. Ya Allah, panjangkan umur anakku, sehatkan jiwa raganya, pintar dan cerdaskan fikirannya, murahkan rezekinya, tebalkan imannya kelak, agar ia selalu bertaqwa kepada-Mu, Amin Ya Robbal’alamiiin…

Gisting, 11-12 Februari 2010
×
Berita Terbaru Update