![]() |
| Kalyca (baju putih-hitam) sedang belajar di dalam kelasnya |
Dengan mengenakan baju kaus putih lengan panjang bergambar tokoh kartun Minnie Mouse dipadu dengan rok bergaris warna gelap, tas ransel boneka warna pink berisi kotak makanan dan botol air minum, Kalyca diantar Anang (Kakek) dari ibunya ke sekolah. Maklum, ibunya harus bekerja di perusahaan swasta. Sementara aku sedang sakit, karena kaki kananku keseleo akibat kecelakaan di Pasar Gadingrejo, Pringsewu, Selasa, 5 Juli 2011 lalu . Tapi memang, Kalyca yang cukup dekat dengan Anangnya, telah berpesan jika sekolah telah dimulai, ia minta diantarkan Kakeknya itu.
Aku yang masih terbaring sakit, namun sudah agak merasa nyaman setelah malam harinya kakiku diurut Mang Sapuan, pria yang masih tetangga dekat dan ada hubungan saudara dengan istriku, berniat untuk melihat kegiatan pertama anakku belajar sambil bersosialisasi dengan teman-teman dan gurunya. Dengan langkah tertatih-tatih menahan sakit di kaki, aku melangkah menuju sekolah kecil Kalyca yang terletak sekitar 100 meter dari kediamanku. Sesampainya di sana, kegiatan belajar dan bermain baru saja dimulai, jam menunjukkan sekitar pukul 08.15 WIB.
Di sana, Anangnya Kalyca dan beberapa orangtua murid lainnya terlihat menunggu di luar kelas berukuran sekitar 10 X 7 meter itu. Bahkan ada sebagian orangtua yang ikut masuk ke dalam kelas, mendampingi anaknya yang masih takut ditinggal sendiri. Aku lihat ke dalam kelas, Kalyca nampak duduk di tengah, dalam posisi duduk melingkar itu. Dia terlihat tenang sambil sesekali menengok Anang dan Ayahnya yang menunggu di luar kelas.
Untuk menjernihkan suasana, ibu guru berjilbab itu mengajak anak-anak bernyanyi dan berdoa. Kuamati, Kalyca masih diam sambil memperhatikan ibu guru dan beberapa temannya bernyanyi. Hal itu nampaknya wajar. Karena bukan hanya Kalyca yang terlihat masih malu-malu. Beberapa murid yang baru pertama masuk juga belum mengikuti ibu guru bernyanyi. Jika pun ada sebagian murid yang ikut bernyanyi, mereka adalah murid lama, yang telah lebih dahulu masuk. Hal itu terlihat dari seragam yang dikenakan mereka. Sedangkan murid baru seperti Kalyca belum mengenakan seragam, karena belum dibagikan. Belakangan, kelas antara murid senior dan junior pun dipisah.
Usai bernyanyi dan berdoa bersama, ibu guru lalu mengabsen nama para murid baru, termasuk nama buah hatiku, Kalyca Darellia Qanita. Ya, aku hanya mencantumkan namanya tanpa Fikri, nama belakangku, di belakang nama lengkapnya. Karena terlalu panjang. Aku kasihan jika nanti dia menuliskan namanya yang seperti kereta api, hehehee... Seperti di rumah, nama panggilan anakku di sekolahnhya juga Darell. Nama panggilan itu memang sudah akrab baginya. Semua orang mengenalnya dengan nama itu. Hari pertama sekolah berjalan seperti biasa. Tak ada yang istimewa.
Namun di hari kedua, aku yang tak sempat memantau anakku di sekolahnya, mendapat kabar yang sangat membanggakanku. Kata Anangnya, Kalyca berani maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, bernyanyi dan berhitung. Bahkan, dia berhitung menggunakan bahasa Inggris, hehehee.. Memang, saat pra sekolah, Kalyca pernah diajari tante dan bundanya berhitung dalam bahasa Internasional itu. Aku takjhub sekaligus bangga. Kalyca berani dan pintar, mak...!
Penasaran, hari ketiga aku mengintip kegiatan belajar Kalyca di sekolahnya. Subhanallah, benar apa yang diceritakan Anangnya. Sambil mengabadikan dengan video handphone, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa berani dan pintarnya Kalyca. Ketika ibu guru bertanya, siapa yang bisa berhitung di depan kelas, tanpa malu-malu Kalyca mengacungkan jari telunjuknya, pertama di antara teman-temannya! Alhamdulillah Ya Allah, selain fisik yang sempurna menurutku, Engkau juga menganugerahkan anakku mental dan kecerdasan yang sangat dahsyat!
Dengan mulut mungillnya, Kalyca berhitung dalam bahasa Inggris dan diulangi lafal Indonesia dengan sangat lancar. Allahu Akbar... Terimakasih mak, terimakasih duhai Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas anugerah terbesar dalam hidupku ini. Aku akan selalu menjaga, mendidik dan mengasuhnya hingga kelak Sekuntum Mawar Tercintaku yang Taat ini menjadi anak yang sehat, cerdas, pintar dan solehah, sehingga kelak berguna serta berbakti kepada orangtua, agama dan negara, amin ya Robbal alamiiin...
Namun di hari kedua, aku yang tak sempat memantau anakku di sekolahnya, mendapat kabar yang sangat membanggakanku. Kata Anangnya, Kalyca berani maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, bernyanyi dan berhitung. Bahkan, dia berhitung menggunakan bahasa Inggris, hehehee.. Memang, saat pra sekolah, Kalyca pernah diajari tante dan bundanya berhitung dalam bahasa Internasional itu. Aku takjhub sekaligus bangga. Kalyca berani dan pintar, mak...!
Penasaran, hari ketiga aku mengintip kegiatan belajar Kalyca di sekolahnya. Subhanallah, benar apa yang diceritakan Anangnya. Sambil mengabadikan dengan video handphone, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa berani dan pintarnya Kalyca. Ketika ibu guru bertanya, siapa yang bisa berhitung di depan kelas, tanpa malu-malu Kalyca mengacungkan jari telunjuknya, pertama di antara teman-temannya! Alhamdulillah Ya Allah, selain fisik yang sempurna menurutku, Engkau juga menganugerahkan anakku mental dan kecerdasan yang sangat dahsyat!
Dengan mulut mungillnya, Kalyca berhitung dalam bahasa Inggris dan diulangi lafal Indonesia dengan sangat lancar. Allahu Akbar... Terimakasih mak, terimakasih duhai Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas anugerah terbesar dalam hidupku ini. Aku akan selalu menjaga, mendidik dan mengasuhnya hingga kelak Sekuntum Mawar Tercintaku yang Taat ini menjadi anak yang sehat, cerdas, pintar dan solehah, sehingga kelak berguna serta berbakti kepada orangtua, agama dan negara, amin ya Robbal alamiiin...
