HARI ini, 17 Agustus 2011, kita kembali memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Kali ini adalah yang ke-66. Dan setiap memperingati hari kemerdekaan yang ke berapa pun, kita selalu bertanya dalam hati, sudah benar-benar merdekakah bangsa ini?
Dalam arti harfiah, jelaslah bahwa negeri ini sudah merdeka karena telah lepas dari penjajahan Belanda selama ratusan tahun. Kita seka rang bebas menentukan nasib bangsa ini, kita bisa memilih pemimpin sendiri, dan kita memiliki kedaulatan penuh untuk mengelola bangsa ini.
Tapi jika kembali ke pertanyaan tadi, apakah kita benar-benar sudah merdeka, kita pun menjadi risau. Dalam berbagai hal kita masih banyak menemui kenyataan yang menyedihkan yang mengarah pada semunya kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan.
Kita masih saksikan ada puluhan juta rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Itu artinya kita belum mampu memerdekakan rakyat sendiri dari jeratan kemiskinan. Ada banyak anak-anak telantar yang harusnya sesuai amanat Undang-Undang Dasar, yakni dipelihara oleh negara, tapi mereka dibiarkan merana di jalanan. Ada jutaan pula anak-anak yang tak menikmati pendidikan.
Kita saksikan para penguasa negeri ini melakukan berbagai kecurangan dan ketidakjujuran dalam menjalankan amanah. Korupsi begitu merajalela merampas kekayaan rakyat dan negara. Itu bukti bahwa negeri kita belum merdeka dari cengkeraman para koruptor yang merampok negeri ini.
Kita saksikan betapa kita memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Ada emas, minyak, batu bara, gas, kelapa sawit, cokelat, kopi, dan lain sebagainya. Tapi, kita hanya bisa mengekspor bahan mentah itu. Itu artinya kita tidak bisa merdeka dari mental pedagang. Mestinya, pemerintah mendorong masyarakat untuk berproduksi.
Kita juga saksikan bahwa perusahaan-perusahaan asing menguasai hajat hidup orang banyak. Mereka—perusahaan asing itu—menguasai pertambangan. Mereka pun menguasai perbankan, asuransi, dan industri keuangan lainnya. Mereka menguasai pakan ternak, mereka menguasai hampir seluruh lini ekonomi negeri ini, dan masih banyak lagi. Kita belum merdeka dari penjajahan ekonomi.
Kita saksikan begitu banyak anak muda yang bertumbangan karena narkoba. Setiap tahunnya, ribuan nyawa harus melayang karena overdosis. Setiap tahun pula, triliunan rupiah dihabiskan untuk merehabilitasi dan melawan narkoba. Itu pertanda bahwa kita belum bisa merdeka dari jeratan para mafia narkoba.
Kemudian yang tak kalah mengerikan adalah para penyelenggara kita yang acapkali mempertontonkan kebohongan, kecongkakan, dan juga korupsi. Kita memang belum bisa merdeka dari cengkeraman penyelenggara negara yang bukannya membangun bangsa tapi justru merontokkan bangsa.
Semestinya, setelah 66 tahun merdeka, dengan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya yang kita miliki, kita sudah bisa menjadi bangsa yang besar. Rakyat sudah sejahtera, anak-anak tak ada yang telantar, dan semua bisa menikmati pendidikan.
Hari kemerdekaan sekarang ini bertepatan dengan bulan puasa. Mari kita manfaatkan hari baik ini sebagai momentum untuk berjihad melawan korupsi dan keserakahan yang melanda bangsa ini. Jika jihad itu berhasil, niscaya kita akan menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka, bukan kemerdekaan yang semu.
Dalam arti harfiah, jelaslah bahwa negeri ini sudah merdeka karena telah lepas dari penjajahan Belanda selama ratusan tahun. Kita seka rang bebas menentukan nasib bangsa ini, kita bisa memilih pemimpin sendiri, dan kita memiliki kedaulatan penuh untuk mengelola bangsa ini.
Tapi jika kembali ke pertanyaan tadi, apakah kita benar-benar sudah merdeka, kita pun menjadi risau. Dalam berbagai hal kita masih banyak menemui kenyataan yang menyedihkan yang mengarah pada semunya kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan.
Kita masih saksikan ada puluhan juta rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Itu artinya kita belum mampu memerdekakan rakyat sendiri dari jeratan kemiskinan. Ada banyak anak-anak telantar yang harusnya sesuai amanat Undang-Undang Dasar, yakni dipelihara oleh negara, tapi mereka dibiarkan merana di jalanan. Ada jutaan pula anak-anak yang tak menikmati pendidikan.
Kita saksikan para penguasa negeri ini melakukan berbagai kecurangan dan ketidakjujuran dalam menjalankan amanah. Korupsi begitu merajalela merampas kekayaan rakyat dan negara. Itu bukti bahwa negeri kita belum merdeka dari cengkeraman para koruptor yang merampok negeri ini.
Kita saksikan betapa kita memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Ada emas, minyak, batu bara, gas, kelapa sawit, cokelat, kopi, dan lain sebagainya. Tapi, kita hanya bisa mengekspor bahan mentah itu. Itu artinya kita tidak bisa merdeka dari mental pedagang. Mestinya, pemerintah mendorong masyarakat untuk berproduksi.
Kita juga saksikan bahwa perusahaan-perusahaan asing menguasai hajat hidup orang banyak. Mereka—perusahaan asing itu—menguasai pertambangan. Mereka pun menguasai perbankan, asuransi, dan industri keuangan lainnya. Mereka menguasai pakan ternak, mereka menguasai hampir seluruh lini ekonomi negeri ini, dan masih banyak lagi. Kita belum merdeka dari penjajahan ekonomi.
Kita saksikan begitu banyak anak muda yang bertumbangan karena narkoba. Setiap tahunnya, ribuan nyawa harus melayang karena overdosis. Setiap tahun pula, triliunan rupiah dihabiskan untuk merehabilitasi dan melawan narkoba. Itu pertanda bahwa kita belum bisa merdeka dari jeratan para mafia narkoba.
Kemudian yang tak kalah mengerikan adalah para penyelenggara kita yang acapkali mempertontonkan kebohongan, kecongkakan, dan juga korupsi. Kita memang belum bisa merdeka dari cengkeraman penyelenggara negara yang bukannya membangun bangsa tapi justru merontokkan bangsa.
Semestinya, setelah 66 tahun merdeka, dengan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya yang kita miliki, kita sudah bisa menjadi bangsa yang besar. Rakyat sudah sejahtera, anak-anak tak ada yang telantar, dan semua bisa menikmati pendidikan.
Hari kemerdekaan sekarang ini bertepatan dengan bulan puasa. Mari kita manfaatkan hari baik ini sebagai momentum untuk berjihad melawan korupsi dan keserakahan yang melanda bangsa ini. Jika jihad itu berhasil, niscaya kita akan menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka, bukan kemerdekaan yang semu.
sumber: republika
