oleh Ayah-nya Kalyca pada 28 Desember 2010 jam 15:04
BENAR kata mereka, anak adalah anugerah yang amat sangat tak ternilai harganya. Tanpa anak, kehidupan sebuah rumah tangga terasa belum lengkap dan sempurna. Tanpa anak, hidup ini takkan pernah ceria. Karena anak, segala kejenuhan, kelelahan, kesakitan bahkan kesulitan hidup, akan terobati.
Anak ibarat embun penyejuk jiwa, laksana pelita dalam gulita, malaikat kecil utusan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang bertugas membagikan keceriaan serta kedamaian di muka bumi.
Hal itulah yang kurasakan setelah menjadi seorang ayah, sejak tiga tahun silam. Kendati saat hendak melahirkan anak pertamaku ini, aku dan istriku sempat 'dikerjai' jabang bayiku itu, heheheee... Kami harus bolak-balik tiga kali ke rumah sakit bersalin, karena posisi calon bayiku itu sungsang atau dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah 'presentasi bokong'.
Namun akhirnya, Allah SWT memberikan bayi yang sehat dan sempurna! Walaupun posisinya sungsang, namun istriku melahirkan secara normal, tanpa harus melalui operasi caesar. Subhanallahi walhamdulillahi walaa ilaa haillallahu allahuakbar...
Teman, setiap orang dewasa tentu pernah menjadi seorang anak. Jadi, biarkan mereka tumbuh dan bermain dalam dunia keceriaan. Sebab anak-anak bukan alat untuk orang dewasa yang bisa dimanfaatkan, atau menjadi media pelampiasan untuk mencari kepuasan. Anak adalah sebuah dunia tersendiri. Tuhan menciptakan mereka dan dititipkan kepada orangtua untuk dirawat dan dijaga proses pertumbuhannya. Dan kelak Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa akan mempertanyakan peran orangtua selama menjalani proses itu.
Anak adalah kita. Anak adalah setangkai bunga bakung, harus tumbuh disegala musim berganti, kita harus menyiramnya dengan ilmu dan ajaran yang terbaik. Tanpa adanya kasih sayang, terutama dari kedua orangtua, anak tak ubahnya seperti kembang kertas yang mudah rapuh. Orang bijak menyebutkan, anak tak ubahnya bagai sehelai kertas putih. Orangtualah yang nantinya menuliskan sesuatu di atasnya, kebaikan atau keburukan. Kelak ketika dewasa, si anak menjadi sosok yang sesuai dengan pendidikan yang diberikan lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.
Kini, Kalyca sudah besar. Besar dalam arti dia sudah terlihat cerdas dan pintar. Meski belum memasuki jenjang pendidikan, Kalyca sudah hafal huruf abjad, berhitung, mengetahui perbedaan warna, benda, bernyanyi dsb. Dahsyatnya, jika saya sedang memarahi istri saya dengan kata-kata sedikit keras, dia selalu membela ibunya dengan balik memarahi saya. hahahahahaaa... KAMU HEBAT ANAKKU!! Kendati baru berusia 3 tahun, tapi kau lebih membela ibu yg telah melahirkanmu, ketimbang ayahmu.
Ayah tidak marah. Bahkan sebaliknya, Ayah sangat bangga! Tak sia-sia Ayah memberimu nama KALYCA DARELLIA QANITA FIKRI, yang berarti SEKUNTUM MAWAR TERCINTA YANG TAAT DAN BERBAKTI ITU ADALAH ANAKNYA FIKRI. Kelak kau akan masuk syurga anakku. Insya Allah... Selamat ulang tahun anakku, syurgaku, jantungku, darah dagingku, hidupku... Semoga engkau selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT... Amin ya Robbal alamiiin...
